Kejadian pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut Jawa Barat menyisakan tanda tanya apakah bendera tersebut yang dibakar merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang tidak ada kaitannya dengan ormas manapun. Dalam penjelasannya Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa bendera yang dibakar tersebut adalah bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang tidak ada hubungannya dengan HTI katanya.
Waketum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Sa'adi dalam konferensinya mengatakan bahwa dalam perspektif Majelis Ulama Indonesia, karena benderanya tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI, maka MUI mengatakan bahwa bendera itu adalah bendera bertauhid yang tidak ada kaintannya dengan ormas manapun. Karena kalau menjadi milik partai kelompok harus ada desain yang berbeda atau warna yang berbeda tidak persis meng-copy seperti dalam sejarah.
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Kalimat Tauhid Itu Mulia, Hati-Hati, Jangan Menjadikannya Sebagai Alat Propaganda
Kenapa kita jarang sekali menemukan lambang-lambang yang bertuliskan kalimat tauhid di beberapa acara yang diadakan pesantren? Coba lihatlah saat ada pertunjukan imtihan, haul, maulid akbar, haflah, pawai ta'aruf, istighotsah, dan lain sebagainya. Sangat jarang sekali kita melihat kalimat tauhid tertulis di spanduk, kaos, bendera, koko, peci, sorban sekalipun, apalagi sampai ikat kepala.
Ada apa? Mengapa? Apa ada yang salah? Bukankah kalimat tauhid itu luhur dan agung? Apakah kalangan pondok pesantren kurang dalam ghirah keislamannya? Apa mereka santri tidak begitu bangga dengan ketauhidannya? Atau malah mereka jangan-jangan tidak suka tulisan kalimat tauhid?
Sebelum Anda menebak yang bukan-bukan, ada satu hal yang harus dipahami secara seksama. Justru para santri dan kyai itu mungkin lebih akrab dengan kalimat tauhid daripada diri kita yang setiap waktu setiap hari setiap detik memakai ikat kepala bertuliskan lafal atau kalimat tauhid. Selain dikumandangkan lima kali sehari di saat waktu adzan tiba, kalimat tauhid juga seringkali diwiridkan dan diendapkan ke dalam kalbu dan alam bawah sadar mereka secara berjama'ah setiap kali setelah sholat selesai.
Akan tetapi mengapa jarang banget terlihat simbol-simbol kalimat tauhid di acara-acara mereka?
Saya disini tidak begitu suka membahas tentang keributan-keributan mengenai simbol kalimat tauhid yang lagi ramai dibicarakan di media sosial. Tidak juga mau membahas penggunaan bendera tauhid sejak masa Nabi Muhammad SAW, para sahabat, sampai peran politisnya di zaman sekarang. Postingan ini hanya sebuah tulisan ringan yang hanya sekedar menguak dan menjelaskan satu tradisi kaum pesantren yang berkaitan dengan pelabelan kalimat tauhid di mana-mana. Yaitu sebuah tradisi ikhtiyath; kehati-hatian dalam ilmu fiqih.
Ada apa? Mengapa? Apa ada yang salah? Bukankah kalimat tauhid itu luhur dan agung? Apakah kalangan pondok pesantren kurang dalam ghirah keislamannya? Apa mereka santri tidak begitu bangga dengan ketauhidannya? Atau malah mereka jangan-jangan tidak suka tulisan kalimat tauhid?
Sebelum Anda menebak yang bukan-bukan, ada satu hal yang harus dipahami secara seksama. Justru para santri dan kyai itu mungkin lebih akrab dengan kalimat tauhid daripada diri kita yang setiap waktu setiap hari setiap detik memakai ikat kepala bertuliskan lafal atau kalimat tauhid. Selain dikumandangkan lima kali sehari di saat waktu adzan tiba, kalimat tauhid juga seringkali diwiridkan dan diendapkan ke dalam kalbu dan alam bawah sadar mereka secara berjama'ah setiap kali setelah sholat selesai.
Akan tetapi mengapa jarang banget terlihat simbol-simbol kalimat tauhid di acara-acara mereka?
Saya disini tidak begitu suka membahas tentang keributan-keributan mengenai simbol kalimat tauhid yang lagi ramai dibicarakan di media sosial. Tidak juga mau membahas penggunaan bendera tauhid sejak masa Nabi Muhammad SAW, para sahabat, sampai peran politisnya di zaman sekarang. Postingan ini hanya sebuah tulisan ringan yang hanya sekedar menguak dan menjelaskan satu tradisi kaum pesantren yang berkaitan dengan pelabelan kalimat tauhid di mana-mana. Yaitu sebuah tradisi ikhtiyath; kehati-hatian dalam ilmu fiqih.
Langganan:
Postingan (Atom)

